Category: Edukasi

  • Blogger Polri : Berjuang Sampai Titik Darah Penghabisan: Amanat Presiden dan Jalan Pengabdian Polri

    Berjuang Sampai Titik Darah Penghabisan: Amanat Presiden dan Jalan Pengabdian Polri

    Berjuang Sampai Titik Darah Penghabisan: Amanat Presiden dan Jalan Pengabdian Polri

     

    JAKARTA, BERITA SENAYAN – Seruan Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo agar seluruh jajaran Polri berjuang “sampai titik darah penghabisan” di bawah Presiden perlu dibaca sebagai penegasan arah pengabdian, bukan sekadar ungkapan heroik. Ia adalah perintah moral dan konstitusional yang menempatkan Polri sebagai instrumen utama negara dalam memastikan kehadiran negara benar-benar dirasakan oleh rakyat.

    Dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, Presiden memegang mandat langsung dari rakyat. Karena itu, loyalitas Polri kepada Presiden pada hakikatnya adalah loyalitas kepada kepentingan publik. Polri ditempatkan bukan untuk membela kekuasaan, melainkan untuk menjamin rasa aman, keadilan, dan perlindungan bagi warga negara. Di titik inilah makna “sampai titik darah penghabisan” menjadi jelas: bekerja tanpa setengah hati, dengan integritas penuh, dan dengan kesetiaan total kepada tujuan pengabdian.

    Makna tersebut menegaskan bahwa keberanian Polri bukan hanya diuji dalam situasi krisis, tetapi juga dalam konsistensi menjalankan tugas sehari-hari: melayani masyarakat dengan adil, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, serta menjaga martabat setiap warga negara yang berhadapan dengan hukum.

    Pandangan ini sejalan dengan cara berpikir konstitusional Presiden Prabowo Subianto mengenai fungsi lembaga keamanan negara. Sejak sebelum menjabat, Prabowo kerap menekankan bahwa TNI dan Polri adalah pilar utama kehadiran negara dalam melindungi rakyat. Dalam berbagai forum resmi, beliau menegaskan pentingnya profesionalisme, netralitas, dan loyalitas institusi keamanan kepada kepentingan bangsa. Dalam kerangka itu, posisi Polri yang berada langsung di bawah Presiden dipahami sebagai desain konstitusional yang paling efektif untuk memastikan negara hadir secara utuh, cepat, dan bertanggung jawab dalam menjamin rasa aman serta keadilan bagi seluruh warga negara.

    Kepercayaan besar Presiden kepada Polri juga memperoleh landasan objektif dari meningkatnya kepercayaan publik. Dalam Laporan Akhir Tahun Kapolri 2025, disampaikan bahwa berbagai lembaga survei independen menunjukkan tren positif terhadap citra dan kinerja kepolisian.

    Hasil Survei Litbang Kompas 2025 mencatat tingkat kepercayaan publik terhadap Polri berada di kisaran 76–78 persen, tertinggi di antara lembaga penegak hukum lainnya. Angka ini mencerminkan adanya pengakuan publik atas perbaikan pelayanan, peningkatan transparansi, serta respons yang lebih cepat terhadap pengaduan masyarakat.

    Di tingkat internasional, Gallup Law and Order Index 2025 menempatkan Indonesia pada skor sekitar 89 poin, salah satu yang tertinggi di Asia. Lebih dari 80 persen responden Indonesia menyatakan merasa aman berjalan sendirian di malam hari, dan mayoritas menyatakan percaya pada kehadiran polisi di lingkungan mereka. Data ini menunjukkan bahwa fungsi dasar kepolisian sebagai penjaga rasa aman mulai dirasakan secara nyata oleh masyarakat.

    Namun, meningkatnya kepercayaan publik justru memperbesar tanggung jawab Polri. Kepercayaan bukanlah tujuan akhir, melainkan amanat yang harus dijaga melalui kerja yang konsisten, bersih, dan berintegritas. Setiap penyimpangan, sekecil apa pun, berpotensi merusak kepercayaan yang dibangun melalui proses panjang.

    Seruan Kapolri sesungguhnya adalah ajakan untuk menggeser pusat perjuangan Polri menuju ikhtiar membantu Kepala Negara dalam menghadirkan negara secara nyata di tengah rakyat. Sebuah ikhtiar untuk memperkuat langkah-langkah melindungi, mengayomi, dan melayani setiap warga negara dengan penuh ketulusan.

    Ia adalah panggilan agar Polri menjadi bagian penting dari percepatan tercapainya kesejahteraan rakyat, sekaligus penopang terangkatnya martabat kemanusiaan. Bahwa setiap tugas kepolisian, sekecil apa pun, pada akhirnya harus bermuara pada satu tujuan: membuat rakyat merasa aman, dihormati, dan dimuliakan oleh negara.

    Dalam kerangka ini, pengabdian Polri tidak lagi hanya diukur dari keberhasilan penegakan hukum, tetapi juga dari kualitas pelayanan publik serta sejauh mana negara benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

    Dalam praktiknya, semangat perjuangan tersebut harus tampak dalam hal-hal yang konkret: pelayanan yang cepat dan tidak berbelit, proses hukum yang transparan, perlindungan yang nyata bagi korban, serta sikap profesional dan berempati dalam setiap interaksi dengan warga.

    Di sinilah “titik darah penghabisan” menjadi ukuran etika kerja: sejauh mana Polri mau mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi, kelompok, atau sekadar citra institusi.

    Kritik masyarakat terhadap Polri justru perlu terus dibuka dan difasilitasi dengan saluran yang mudah, aman, dan transparan. Keluhan mengenai pelayanan yang belum merata, dugaan penyalahgunaan wewenang, serta penanganan perkara yang dianggap belum sepenuhnya adil harus dipandang sebagai bagian dari kontrol publik yang sehat. Di sanalah proses perbaikan institusi menemukan energinya.

    Dengan demikian, seruan “berjuang sampai titik darah penghabisan” adalah perintah untuk menjaga kepercayaan Presiden dan harapan rakyat yang begitu besar melalui kerja nyata yang terukur. Bukan dengan retorika, melainkan dengan profesionalisme dan integritas. Bukan dengan simbol, melainkan dengan pelayanan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

    Polri di bawah Presiden adalah Polri yang mengemban amanat Kepala Negara. Polri yang dipercaya dan dicintai rakyat adalah Polri yang mampu menerjemahkan amanat itu menjadi pilar utama terciptanya rasa aman, hadirnya keadilan di tengah masyarakat, serta terjaganya martabat kemanusiaan.

    Perlu dicatat bahwa seruan perjuangan hingga titik darah penghabisan merupakan deklarasi Kapolri untuk menjalankan amanat langsung Presiden dengan kesungguhan penuh, agar Polri menjadi bagian penting dalam terciptanya kesejahteraan rakyat. Ia adalah komitmen institusional bahwa Polri tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai penjaga harapan sosial dan keadilan publik.

  • Peringati 25 tahun, Pamor Persada kirim bantuan 10 truk ke Sumatera

    Peringati 25 tahun, Pamor Persada kirim bantuan 10 truk ke Sumatera

    Jakarta Timur – Paguyuban Pamor Persada memperingati hari jadinya yang ke-25 melalui kegiatan bertajuk “25th Pamor Persada: Rapatkan Barisan, Lanjutkan Pengabdian untuk Indonesia Maju dan Sejahtera” yang digelar di Shelter Lapangan Tembak VIP Djamsuri Brigade Parako 1 Pasgat, Jakarta Timur, Minggu (14/12/2025).

    Ketua Panitia Bantuan Sosial Kolonel Pasukan Helmi Ardiyanto Nange mengatakan, peringatan 25 tahun Pamor Persada menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan sekaligus meningkatkan kepedulian sosial kepada masyarakat.

    “Peringatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi kami isi dengan kegiatan bakti sosial sebagai wujud nyata pengabdian Pamor Persada kepada masyarakat,” kata Helmi.

    Sambutan berikutnya disampaikan Ketua Paguyuban Sanika Satyawada Kombes Pol Budi Hermanto. Ia menegaskan bahwa Pamor Persada merupakan wadah pemersatu lintas paguyuban yang harus terus menjaga soliditas, loyalitas, dan nilai kebangsaan.

    “Kekuatan Pamor Persada ada pada kebersamaan. Dengan persatuan yang kuat, pengabdian kepada bangsa dan negara akan terus berlanjut,” ujar Budi.

    Sementara itu, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), lulusan Akademi Militer 2000 yang kini menjabat Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, mengapresiasi konsistensi Pamor Persada selama 25 tahun dalam merawat persaudaraan dan semangat pengabdian.

    “Semangat rapatkan barisan dan melanjutkan pengabdian seperti yang dilakukan Pamor Persada sangat penting dalam menjaga persatuan serta mendukung Indonesia yang maju dan sejahtera,” kata AHY.

    Acara tersebut turut dihadiri Ketua Paguyuban Parikesit Brigadir Jenderal Rio Neswan, Ketua Paguyuban Moro Prabu Laksamana Pertama Dedi Komarudin, serta Ketua Paguyuban Imperium Kolonel Elektronika Rani Partono.

    Peringatan 25 tahun Pamor Persada menjadi momentum refleksi dan penguatan komitmen seluruh anggota untuk terus merapatkan barisan serta melanjutkan pengabdian nyata bagi bangsa dan negara.

  • Ringankan beban pedagang Kalibata, Polda Metro berikan Bantuan.

    Ringankan beban pedagang Kalibata, Polda Metro berikan Bantuan.

    Polda Metro Jaya menyalurkan bantuan modal kepada pedagang di kawasan depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, yang terdampak aksi balas dendam kelompok debt collector atau mata elang. Bantuan tersebut diberikan sebagai langkah awal agar pedagang dapat kembali berjualan setelah kehilangan lapak dan modal usaha.

    Koordinator pedagang Kalibata, Purwanto, mengatakan bantuan disampaikan saat pertemuan perwakilan pedagang dengan Polda Metro Jaya. Pertemuan itu dihadiri Wakapolda Metro Jaya Brigjen Dekananto Eko Purwono yang mewakili Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri. “Alhamdulillah kami tadi dipanggil ke Polda Metro. Wakapolda mewakili Kapolda Metro mengundang kami. Pertama menyampaikan prihatin dan menyampaikan permintaan maaf atas kejadian ini,” ujar Purwanto kepada wartawan, Sabtu (13/12/2025).

    Selain bantuan modal, Polda Metro Jaya juga menjanjikan pengamanan saat para pedagang kembali beraktivitas di lokasi. “Kedua, akan membekali kami pengamanan saat kami beraktivitas berjualan lagi. Alhamdulillah memberikan bantuan, seberapapun bantuan kami terima, kami ucapkan terima kasih,” katanya.

    Meski demikian, Purwanto menyebut para pedagang belum bisa langsung kembali berjualan. Selain masih trauma, sebagian besar pedagang kehilangan seluruh modal akibat kerusuhan. “Untuk kondisi pedagang saat ini, kami belum keluar dulu. Meskipun sudah kondusif, kami kehabisan modal,” ujarnya. Ia juga memastikan bantuan modal dari Kapolda Metro Jaya akan dibagikan secara adil dan transparan sesuai tingkat kerusakan masing-masing lapak. “Kami akan bagikan adil sesuai porsinya masing-masing karena kerusakannya berbeda-beda,” kata Purwanto.

    Saat ini pihaknya masih melakukan pendataan ulang pedagang untuk memastikan bantuan tepat sasaran. “Meskipun sudah ada bantuan modal dari Kapolda Metro Jaya, kami belum bisa bagikan karena ini harus transparan pembagiannya,” ujarnya. Berdasarkan data koordinator pedagang, terdapat 42 pedagang tenda bongkar pasang dan 22 pedagang permanen di kawasan tersebut. Total ada 64 tenda yang sebelumnya digunakan sekitar 40 pedagang.

    Seperti diberitakan sebelumnya, kerusuhan di Kalibata dipicu aksi balas dendam kelompok debt collector setelah dua anggotanya tewas dikeroyok anggota Yanma Mabes Polri. Peristiwa tersebut menyebabkan puluhan kios pedagang dan sejumlah kendaraan terbakar, dengan total kerugian ditaksir hampir Rp1,2 miliar.

  • Patut Diacungi Jempol 3 Srikandi Polda Metro Jaya Raih Medali di SEA Games Thailand

    Patut Diacungi Jempol 3 Srikandi Polda Metro Jaya Raih Medali di SEA Games Thailand

    Jakarta – Tiga Srikandi Polri menorehkan prestasi membanggakan dalam kancah olahraga internasional. Tiga orang polwan itu menyumbangkan medali untuk kontingen Indonesia di ajang SEA Games yang digelar di Thailand pada Desember 2025.
    Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyampaikan pencapaian ketiga Polwan Polda Metro Jaya ini merupakan bukti nyata dukungan penuh institusi Polri terhadap pengembangan bakat anggotanya.

    “Prestasi ini diharapkan dapat memacu semangat personel Polri lainnya untuk terus berprestasi, baik dalam tugas kepolisian maupun di bidang olahraga,” kata Budi Hermanto, dalam keterangannya, Jumat (12/12/2025).
    Prestasi yang diraih itu mencakup dua cabang olahraga (cabor) berbeda, yakni Karate dan Bulutangkis. Ketiganya membuktikan tak hanya menjadi garda terdepan dalam menjalankan tugas negara, tetapi juga mengharumkan nama bangsa lewat kemampuannya di bidang olahraga.

    Dari gelanggang olahraga Karate, Indonesia berhasil mengamankan medali perunggu melalui kerja keras tim kata beregu putri. Dua personel Polri meraih podium, yakni Bripda Emilia Sri Hanandyta dan Bripda Dian Monica Nababan.

    Keduanya tampil memukau dalam kelas Kata Beregu Putri yang berlangsung pada tanggal 11 hingga 14 Desember 2025, membuktikan kedisiplinan dan fokus yang mereka peroleh selama pendidikan kepolisian sangat menunjang prestasi di dunia olahraga.

    Prestasi yang tak kalah membanggakan juga datang dari cabor Bulutangkis. Aksi tunggal Bripda Putri Kusuma Wardani mampu menyumbangkan medali perak dalam Bulutangkis ini.

    Pertandingan Bulutangkis pada SEA Games ke-33 ini berlangsung lebih awal, yaitu pada tanggal 7 hingga 10 Desember 2025. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa Polwan mampu berprestasi tinggi di tengah padatnya tugas sebagai abdi negara.